Kamis, 28 Maret 2019

Gigiku (Part 4): Scaling

Baru ku tau kenapa ketika kuliah aku sakit gigi. Itu terjadi karena gigi bungsu (gigi geraham ketiga) tumbuh nggak sesuai (impaksi). Gigi bungsu biasanya tumbuh pada orang berusia 18 tahun - 30 tahun, namun ada juga yang tidak mengalaminya karena gigi bungsunya terpendam alias gigi tidak keluar. Sebelum penanganan operasi pengambilan gigi bungsu, aku oleh dokter dirujuk ke dokter gigi spesialis periodonsi karena mengalami gingivitis (radang gusi) untuk dilakukan prosedur scaling karena karang gigiku lumayan banyak.

Scaling merupakan prosedur non operasi untuk bersihin karang gigi (kalkulus) dan plak yang menempel erat dipermukaan gigi. Awalnya aku juga ngeri karena lom pernah scaling tapi papa kan pernah dan bilang itu gak sakit. Gigi dibersihkan dengan alat bernama scaler, pas pertama lihat alatnya kayak runcing tajem gitu mulai parno. Suara alatnya bikin ngerasa tambah serem. Untungnya, pas pengerjaannya gak seserem yang ku bayangkan. Saat scaling yang aku rasain tuh ngilu, habis itu gusi berdarah itu wajar soalnya kotoran yang melekat kuat lepas.

Berdarah habis scaling

Setelah scaling gigi terasa bersih, terasa ada jarak antara gigi satu dengan lainnya setelah sebelumnya gigi tak berjarak karena tertutup karang. Nafas juga terasa lebih segar.

Jika gigi dibiarkan berkarang maka dapat menyebabkan keompongan karena tulang gigi dan jaringan disekitarnya mengalami kerusakan. Selain itu jarang membersihkan karang gigi juga berpotensi sakit jantung dan stroke karena bakteri yang menempel pada gigi bisa masuk ke aliran darah.

Scaling gigi dianjurkan dilakukan 2 kali dalam setahun atau per 6 bulan sekali. Menjaga kesehatan gigi dan mulut tak cukup dengan cara menyikat gigi saja. Wow banget deh, sekarang harus lebih aware ke kesehatan gigi.

Oiya, pada saat scaling dokter melihat aku punya "tongue tie" (tali lidah). Tali agak tebal dibawah lidah ini seringkali bikin siempunya terganggu saat melafalkan huruf (cadel). Jika "tongue tie" dirasa menganggu maka akan dilakukan tindakan pemotongan oleh dokter. Akhirnya dokter mengecek apakah aku cadel dalam pelafalan huruf S dan ternyata nggak jadi tali lidahku nggak perlu dipotong. Aku punya temen yang punya tali lidah agak tebal juga dan pelafalan huruf S itu cadel jadi kayak mendesis-desis gitu.

To be continue...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar