Jumat, 19 April 2019

Gigiku (Part 5): Odontectomy

Februari kemarin tibalah saat untuk odontektomi yaitu prosedur pengambilan gigi dengan metode bedah. Nah, sehari sebelumnya udah disuruh nginep di RS buat persiapannya. Siang itu aku cek lab dulu, dan #jengjeng ternyata ada sedikit masalah dari hasil lab punyaku. Bu dokter Spesialis Bedah Mulut pun, berusaha nenangin aku agar gak panik. Beliau menyuruhku ke pendaftaran dan nyari kamar untuk nginep (opname), sambil mengatakan kondisiku akan dikonsulkan dengan dokter Spesialis Penyakit Dalam.

Akhirnya dapetlah kamar untuk opname, pas malam dokter Penyakit Dalamnya visite dan melakukan anamnesa. Perawat pun mendampingi dokter dan melakukan pengecekan, setelah di cek hasilnya masih belum sesuai sehingga harus dilakukan tindakan. Perawat pun juga memberikan instruksi untuk berpuasa setelah pukul 12 malam agar jika besok jadi dilaksanakan operasi maka sudah siap karena puasa merupakan salah satu prosedur sebelum dilakukan operasi.

Alhamdulillah, setelah dilakukan beberapa tindakan oleh perawat dibawah pengawasan dokter Spesialis Penyakit Dalam maka dapat mencapai hasil yang diinginkan sebelum operasi [Maaf belom bisa diceritakan kenapanya, nanti mungkin akan dibahas tersendiri]. Operasi odontektomi pun dapat terlaksana, sesuai kesepakatan akhir dengan dokter Spesialis BM sebelumnya maka dari 5 gigi diambil 4 gigi sekaligus. Atas dua kanan kiri, bawah dua kanan kiri. Saat odontektomi dilakukan dengan bius total, menurut cerita ortuku sih sejak aku masuk ruang operasi hingga keluar ada sekitar 2 jam.

Hari itu juga ketika sudah sadar dari bius, boleh belajar bangun dan pulang. Namun, atas permintaan dokter Spesialis Penyakit Dalam untuk melakukan evaluasi lagi maka aku melanjutkan opname sehari lagi di RS.

Bengkak, selfie pasca siuman
Nah, itu sih yang agak gak siap karena kompresan dingin udah aku siapin di rumah jadi gak kubawa ke RS. Padahal bengkak dan pendarahan pada hari pertama operasi disarankan untuk minum dan kompres menggunakan es. Malam-malam minta mama keluar beliin es teh untuk diminum sama es batu untuk kompres, darurat ya udah pake plastik ngompresnya. Makan juga susah, bibirnya cuma bisa kebuka dikit, jadi diganti minum susu doang.

Keesokan harinya dilakukan beberapa tindakan lagi untuk cek dan setelah dinyatakan cukup baik maka aku pun diijinkan pulang.

To be continue...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar