Hai gaes, maapkeun ya lama vakum lagi... baru bisa nulis akhir tahun banget. Sedih deh nenekku meninggal pertengahan tahun ini & biasanya tgl.31 Desember gini, keluargaku merayakan ultah beliau.
Btw, balik cerita tentang gigiku lagi ya, habis odontectomy, pipi bengkak banget & dokter bilang sekitar semingguan. Ternyata padaku seminggu tetep belum bisa buka mulut dengan sempurna. Padahal udah akan dilakukan penambalan pada gigi lainnya. Seminggu kemudian baru deh bisa buka mulut sempurna, tapi ternyata hmmmm...tambalan lama dari faskes 1 itu menutup gusiku sehingga gusi mengalami pembengkakan/peradangan pas mau ditambal berdarah terus. Huwhuw ðŸ˜, ngeri pas dokter bilang harus dilakukan operasi minor untuk potong gusi agar gigi bisa ditambal. Hari H pun tiba tgl. 9 April, Alhamdulillah operasi potong gusi berjalan lancar, meski agak ngilu ya coz bius lokal jadi ngelihat jarum & benang mendengar suara ser...ser saat benang ditarik. Hasilnya nice sih.
Setelah operasi potong gusi, tambalan sementara untuk gigi belakangnya yang mau dijaketin gak sengaja lepas jadi ya harus dibongkar dan ditambal ulang. Langsung sih hari itu juga, kelar boleh pulang.
Pas udah pulih baru pengerjaan untuk pasang jaket gigi pun dimulai, bikin cetakan setelah giginya dikecilin agar sesuai, terus nunggu jaket gigi jadi sesuai cetakan. Oh iya, kata dokter jaket gigi ini bisa tahan sekitar 10 tahunan. Jaket gigi akhirnya jadi lalu bikin appointment deh ma dokter buat pasangnya. Secara ya mulut aku tuh kecil & air liurku banyak jadi setiap prosesnya cukup sulit. Nah apalagi proses kali ini yg harus merekatkan jaket gigi dengan lem ke gigi yg udah dikecilkan sedemikian rupa. Nah, keselingan cuti lebaran untuk kontrolnya diundur deh habis lebaran. Inget banget sih itu bulan Juni, sehari setelah nenek meninggal tuh jadwal kontrol jadi aku ke RS masih dalam keadaan berduka cita. Ternyata oh ternyata gaes, bleeding (pendarahan) parah bgt...dokternya pun panik. Untungnya dengan agak susah payah hari itu langsung ditangani 2 dokter yang berbeda spesialisasi, satunya nanganin gigi yang ditambal, satunya nanganin jaket giginya karena udah kelamaan libur jadi gak cek. Alhamdulillah bisa membaik, minggu berikutnya aku cek di dokter keluarga jg udah ok.
Penanganan gigi berlanjut ke gigi sisi seberangnya. Btw, ternyata pas di cek harus dilakukan potong gusi jugak dibagian itu untuk melihat seberapa besar lubangnya karena gusinya menutupi bagian yang berlubang. Bulan Agustus dilakukanlah operasi potong gusi lagi, tapi ternyata keadaan gigi parah karena lubang besar sekali dan telah tertutup gusi maka hari itu juga gusi yang menitup diambil. Hari itu juga dokter bilang untuk gigi ini sudah terlalu parah dan tidak mungkin lagi diselamatkan. Jalan satu-satunya adalah mencabut/mengambil gigi tersebut. Setelah pulih dilakukanlah proses scaling sebelum minggu selanjutnya dilakukan proses exo (pencabutan) pada gigi itu oleh dokter spesialis Bedah Mulut tapi gak nginep kali ini juga bisa langsung pulang. Yah berat sih, tapi semua sudah berusaha tetap Allah yang menentukan. Yeeiy, cukup sekian kisah gigiku. Ikutin pesan dokter gigi ya, "Jangan lupa untuk cek kesehatan gigi setiap 6 bulan sekali, jangan banyak makan yang manis-manis, dan gosok gigi minimal 2x sehari".
The end 👋
Senin, 30 Desember 2019
Jumat, 19 April 2019
Gigiku (Part 5): Odontectomy
Februari kemarin tibalah saat untuk odontektomi yaitu prosedur pengambilan gigi dengan metode bedah. Nah, sehari sebelumnya udah disuruh nginep di RS buat persiapannya. Siang itu aku cek lab dulu, dan #jengjeng ternyata ada sedikit masalah dari hasil lab punyaku. Bu dokter Spesialis Bedah Mulut pun, berusaha nenangin aku agar gak panik. Beliau menyuruhku ke pendaftaran dan nyari kamar untuk nginep (opname), sambil mengatakan kondisiku akan dikonsulkan dengan dokter Spesialis Penyakit Dalam.
Akhirnya dapetlah kamar untuk opname, pas malam dokter Penyakit Dalamnya visite dan melakukan anamnesa. Perawat pun mendampingi dokter dan melakukan pengecekan, setelah di cek hasilnya masih belum sesuai sehingga harus dilakukan tindakan. Perawat pun juga memberikan instruksi untuk berpuasa setelah pukul 12 malam agar jika besok jadi dilaksanakan operasi maka sudah siap karena puasa merupakan salah satu prosedur sebelum dilakukan operasi.
Alhamdulillah, setelah dilakukan beberapa tindakan oleh perawat dibawah pengawasan dokter Spesialis Penyakit Dalam maka dapat mencapai hasil yang diinginkan sebelum operasi [Maaf belom bisa diceritakan kenapanya, nanti mungkin akan dibahas tersendiri]. Operasi odontektomi pun dapat terlaksana, sesuai kesepakatan akhir dengan dokter Spesialis BM sebelumnya maka dari 5 gigi diambil 4 gigi sekaligus. Atas dua kanan kiri, bawah dua kanan kiri. Saat odontektomi dilakukan dengan bius total, menurut cerita ortuku sih sejak aku masuk ruang operasi hingga keluar ada sekitar 2 jam.
Hari itu juga ketika sudah sadar dari bius, boleh belajar bangun dan pulang. Namun, atas permintaan dokter Spesialis Penyakit Dalam untuk melakukan evaluasi lagi maka aku melanjutkan opname sehari lagi di RS.
Nah, itu sih yang agak gak siap karena kompresan dingin udah aku siapin di rumah jadi gak kubawa ke RS. Padahal bengkak dan pendarahan pada hari pertama operasi disarankan untuk minum dan kompres menggunakan es. Malam-malam minta mama keluar beliin es teh untuk diminum sama es batu untuk kompres, darurat ya udah pake plastik ngompresnya. Makan juga susah, bibirnya cuma bisa kebuka dikit, jadi diganti minum susu doang.
Keesokan harinya dilakukan beberapa tindakan lagi untuk cek dan setelah dinyatakan cukup baik maka aku pun diijinkan pulang.
To be continue...
Akhirnya dapetlah kamar untuk opname, pas malam dokter Penyakit Dalamnya visite dan melakukan anamnesa. Perawat pun mendampingi dokter dan melakukan pengecekan, setelah di cek hasilnya masih belum sesuai sehingga harus dilakukan tindakan. Perawat pun juga memberikan instruksi untuk berpuasa setelah pukul 12 malam agar jika besok jadi dilaksanakan operasi maka sudah siap karena puasa merupakan salah satu prosedur sebelum dilakukan operasi.
Alhamdulillah, setelah dilakukan beberapa tindakan oleh perawat dibawah pengawasan dokter Spesialis Penyakit Dalam maka dapat mencapai hasil yang diinginkan sebelum operasi [Maaf belom bisa diceritakan kenapanya, nanti mungkin akan dibahas tersendiri]. Operasi odontektomi pun dapat terlaksana, sesuai kesepakatan akhir dengan dokter Spesialis BM sebelumnya maka dari 5 gigi diambil 4 gigi sekaligus. Atas dua kanan kiri, bawah dua kanan kiri. Saat odontektomi dilakukan dengan bius total, menurut cerita ortuku sih sejak aku masuk ruang operasi hingga keluar ada sekitar 2 jam.
Hari itu juga ketika sudah sadar dari bius, boleh belajar bangun dan pulang. Namun, atas permintaan dokter Spesialis Penyakit Dalam untuk melakukan evaluasi lagi maka aku melanjutkan opname sehari lagi di RS.
![]() |
| Bengkak, selfie pasca siuman |
Keesokan harinya dilakukan beberapa tindakan lagi untuk cek dan setelah dinyatakan cukup baik maka aku pun diijinkan pulang.
To be continue...
Kamis, 28 Maret 2019
Gigiku (Part 4): Scaling
Baru ku tau kenapa ketika kuliah aku sakit gigi. Itu terjadi karena gigi bungsu (gigi geraham ketiga) tumbuh nggak sesuai (impaksi). Gigi bungsu biasanya tumbuh pada orang berusia 18 tahun - 30 tahun, namun ada juga yang tidak mengalaminya karena gigi bungsunya terpendam alias gigi tidak keluar. Sebelum penanganan operasi pengambilan gigi bungsu, aku oleh dokter dirujuk ke dokter gigi spesialis periodonsi karena mengalami gingivitis (radang gusi) untuk dilakukan prosedur scaling karena karang gigiku lumayan banyak.
Scaling merupakan prosedur non operasi untuk bersihin karang gigi (kalkulus) dan plak yang menempel erat dipermukaan gigi. Awalnya aku juga ngeri karena lom pernah scaling tapi papa kan pernah dan bilang itu gak sakit. Gigi dibersihkan dengan alat bernama scaler, pas pertama lihat alatnya kayak runcing tajem gitu mulai parno. Suara alatnya bikin ngerasa tambah serem. Untungnya, pas pengerjaannya gak seserem yang ku bayangkan. Saat scaling yang aku rasain tuh ngilu, habis itu gusi berdarah itu wajar soalnya kotoran yang melekat kuat lepas.
Setelah scaling gigi terasa bersih, terasa ada jarak antara gigi satu dengan lainnya setelah sebelumnya gigi tak berjarak karena tertutup karang. Nafas juga terasa lebih segar.
Jika gigi dibiarkan berkarang maka dapat menyebabkan keompongan karena tulang gigi dan jaringan disekitarnya mengalami kerusakan. Selain itu jarang membersihkan karang gigi juga berpotensi sakit jantung dan stroke karena bakteri yang menempel pada gigi bisa masuk ke aliran darah.
Scaling gigi dianjurkan dilakukan 2 kali dalam setahun atau per 6 bulan sekali. Menjaga kesehatan gigi dan mulut tak cukup dengan cara menyikat gigi saja. Wow banget deh, sekarang harus lebih aware ke kesehatan gigi.
Oiya, pada saat scaling dokter melihat aku punya "tongue tie" (tali lidah). Tali agak tebal dibawah lidah ini seringkali bikin siempunya terganggu saat melafalkan huruf (cadel). Jika "tongue tie" dirasa menganggu maka akan dilakukan tindakan pemotongan oleh dokter. Akhirnya dokter mengecek apakah aku cadel dalam pelafalan huruf S dan ternyata nggak jadi tali lidahku nggak perlu dipotong. Aku punya temen yang punya tali lidah agak tebal juga dan pelafalan huruf S itu cadel jadi kayak mendesis-desis gitu.
To be continue...
Scaling merupakan prosedur non operasi untuk bersihin karang gigi (kalkulus) dan plak yang menempel erat dipermukaan gigi. Awalnya aku juga ngeri karena lom pernah scaling tapi papa kan pernah dan bilang itu gak sakit. Gigi dibersihkan dengan alat bernama scaler, pas pertama lihat alatnya kayak runcing tajem gitu mulai parno. Suara alatnya bikin ngerasa tambah serem. Untungnya, pas pengerjaannya gak seserem yang ku bayangkan. Saat scaling yang aku rasain tuh ngilu, habis itu gusi berdarah itu wajar soalnya kotoran yang melekat kuat lepas.
![]() |
| Berdarah habis scaling |
Setelah scaling gigi terasa bersih, terasa ada jarak antara gigi satu dengan lainnya setelah sebelumnya gigi tak berjarak karena tertutup karang. Nafas juga terasa lebih segar.
Jika gigi dibiarkan berkarang maka dapat menyebabkan keompongan karena tulang gigi dan jaringan disekitarnya mengalami kerusakan. Selain itu jarang membersihkan karang gigi juga berpotensi sakit jantung dan stroke karena bakteri yang menempel pada gigi bisa masuk ke aliran darah.
Scaling gigi dianjurkan dilakukan 2 kali dalam setahun atau per 6 bulan sekali. Menjaga kesehatan gigi dan mulut tak cukup dengan cara menyikat gigi saja. Wow banget deh, sekarang harus lebih aware ke kesehatan gigi.
Oiya, pada saat scaling dokter melihat aku punya "tongue tie" (tali lidah). Tali agak tebal dibawah lidah ini seringkali bikin siempunya terganggu saat melafalkan huruf (cadel). Jika "tongue tie" dirasa menganggu maka akan dilakukan tindakan pemotongan oleh dokter. Akhirnya dokter mengecek apakah aku cadel dalam pelafalan huruf S dan ternyata nggak jadi tali lidahku nggak perlu dipotong. Aku punya temen yang punya tali lidah agak tebal juga dan pelafalan huruf S itu cadel jadi kayak mendesis-desis gitu.
To be continue...
Jumat, 22 Maret 2019
Gigiku (Part 3): Impaksi
Awal tahun baru 2019 aku pergi RS. Bu dokter Spesialis Bedah Mulut baru bisa ditemui siang hari karena pagi hingga siang beliau ada jadwal operasi gigi diruang operasi.
Pagi itu aku diberi surat pengantar dari poliklinik spesialis gigi dan bedah mulut untuk melakukan foto panoramik (rontgen gigi) ke radiologi. Setelah mengantri di radiologi aku diajak masuk ke ruangan yang terdapat alat rontgen dalam posisi berdiri. Aku mendapat instruksi untuk berdiri tegak lurus, kepala kayak dijepit gitu pake alat, lalu aku harus menggigit blok plastik yang sebelumnya udah dikasih plastik pelindung. Kepala nggak boleh miring, bibir menutup sembari lidah ditekan kearah langit-langit. Nggak dibolehkan gerak sampai alat tersebut berhenti berputar.
Fungsi pemeriksaan gigi panoramik (rontgen gigi) adalah untuk melihat keseluruhan tulang, rahang, dan gigi yang nggak bisa dilihat dari pemeriksaan biasa. Bisa untuk nentuin tindakan atau pengobatan yang akan dilakukan jika ada kelainan.
Fungsi pemeriksaan gigi panoramik (rontgen gigi) adalah untuk melihat keseluruhan tulang, rahang, dan gigi yang nggak bisa dilihat dari pemeriksaan biasa. Bisa untuk nentuin tindakan atau pengobatan yang akan dilakukan jika ada kelainan.
![]() |
| Hasil x-ray Gigiku |
Hasil rontgen gigiku menunjukkan ada 5 gigi yang impaksi (syok dong aku, kan mikirnya cuma satu doang eh gak taunya lima). Impaksi gigi adalah terhambatnya proses erupsi gigi secara menyeluruh atau sebagian. Setelah aku pelajari sih emang aku selama ini ngalamin beberapa efek dari impaksi (efek pada orang gak selalu sama), kalo di aku sih: Sering migren, nafas bau tak sedap, beberapa kali muncul pembengkakan di area gigi dan rasa nggak nyaman saat ngunyah makanan.
Pada siang harinya saat konsul kedokter Spesialis Bedah Mulut, beliau menanyakan keluhanku, maka ku jelaskan bahwa gigiku nomor dua dari belakang sakit sudah ditambal copot terus. Menurut beliau itu disebabkan karena impaksi di gigi paling belakang (gigi bungsu) yang miring sehingga merusak gigi depannya. Jika dibiarkan hal itu dapat merembet ke gigi-gigi lain didepannya (semacam efek domino gitu ya). Beliau pun menjadwalkan operasi, bulan Februari 2019 ini. Beliau agaknya tau aku cukup syok, maka beliau bertanya untuk operasi tidak langsung kelimanya tapi beliau menawarkan untuk dibagi dalam 2 kali operasi. Saat itu aku mengiyakan, tapi aku juga meminta untuk jika bisa gigi yang rusak karena gigi bungsuku itu untuk coba dipertahankan. Akhirnya dikonsultasikanlah dengan pak dokter Spesialis Konservasi Gigi, beliau cek dan bersedia mengusahakan untuk dipertahankan, namun jika tidak berhasil maka terpaksa dicabut. Tindakan itu akan diupayakan setelah sembuh dari operasi. Sebelumnya maka aku dirujuk dulu ke dokter Spesialis Periodontis minggu depannya untuk melakukan perawatan terlebih dahulu. Pulang dari rumah sakit aku pun kepikiran dan mulai menimbang-nimbang untuk melakukan operasi gigi sekaligus ambil 4 atau seperti tadi dibagi 2 kali.
To be continue...
Kamis, 14 Maret 2019
Gigiku (Part 2): Gigi Berlubang
Setelah sekian lama tak berkunjung ke dokter gigi, akhirnya berangkatlah Mei 2018 itu periksa. Ngobrolah sama bu dokter gigi muda yang bertugas di klinik sore itu. Disuruhlah pindah ke "Dental Chair" (Kursi Periksa Gigi), untuk diperiksa. Diagnosa dokter sih sama kayak dugaanku, yaitu gigi berlubang. Ada 2 gigi, nah yang satu didepan dan satunya lagi agak parah tuh posisinya di samping kanan belakang.
Bu dokter pun minta asistennya mempersiapkan bahan kebutuhan untuk filling (menambal) si gigi berlubang itu. Tindakan awalnya gigiku di bor cuy, proses ini dilakukan untuk membersihkan dan membuang bagian gigi yang rusak. Agak ngeri juga sih pas tau mau di bor giginya tapi ternyata ya biasa aja rasanya, lebih ngerian suara nguingggg...nguuingg bornya. Haha. Lalu ditambalah gigiku satu persatu. Gigi yang posisinya di bagian samping kanan belakang ini agak susah sih. Lumayan lama juga hingga prosesnya selesai. Sebelum pulang bu dokter berpesan gigi yang agak depan ini kalau misal lepas tambalannya, ntar di tambal sinar aja. Nah, kalau yang samping ini karena posisinya susah ntar kalo tambalannya lepas kamu harus dicabut aja tapi gak bisa disini...nyabutnya harus ke Dokter BM (Bedah Mulut). Duh, ya langsung ngeriilah aku ngebayangin BM.
Oiya gak boleh langsung makan atau minum sehabis ditambal. Tunggu sekitar 1 jam dulu, tapi kalo aku sih lebih dari 1 jam. Tara...yang ditakutkan kejadian euy, pas makan sepertinya itu tambalan gigi belakang samping ketelen. Ilang deh, bolong maning (mampus deh, terngiang-ngiang wejangan bu dokter muda untuk ke BM). Alahmdulillah tambalan yang depan aman.
Bu dokter pun minta asistennya mempersiapkan bahan kebutuhan untuk filling (menambal) si gigi berlubang itu. Tindakan awalnya gigiku di bor cuy, proses ini dilakukan untuk membersihkan dan membuang bagian gigi yang rusak. Agak ngeri juga sih pas tau mau di bor giginya tapi ternyata ya biasa aja rasanya, lebih ngerian suara nguingggg...nguuingg bornya. Haha. Lalu ditambalah gigiku satu persatu. Gigi yang posisinya di bagian samping kanan belakang ini agak susah sih. Lumayan lama juga hingga prosesnya selesai. Sebelum pulang bu dokter berpesan gigi yang agak depan ini kalau misal lepas tambalannya, ntar di tambal sinar aja. Nah, kalau yang samping ini karena posisinya susah ntar kalo tambalannya lepas kamu harus dicabut aja tapi gak bisa disini...nyabutnya harus ke Dokter BM (Bedah Mulut). Duh, ya langsung ngeriilah aku ngebayangin BM.
![]() |
| Tambalan gigi bawah putih |
Namanya juga takut, jadi aku gak langsung ke BM. Beberpa hari kemudian aku cari second opinion ke dokter lain di klinik, dokter ini yang nanganin gigi mama yang tempo hari juga bermasalah. Dokternya kali ini lebih senior, seangkatan papa. Gigiku di cek di bor lagi dan ditindak lanjuti dengan pemberian tambalan sementara ntar seminggu lagi balik ke situ. Diresepkan anti radang & anti nyeri.
Hari itu papa juga mau konsul giginya sih. Setelah di cek gigi papa harus dicabut tapi berhubung punya riwayat sakit jantung dan diabet maka dirujuklah ke Rumah Sakit Bagian Spesialis Gigi & Bedah Mulut.
Beberapa hari kemudian gigiku baru kerasa nyeri yang kebangetan. Pas kontrol berikutnya laporlah, lepas juga nih tambalan sementara. Diresepin obat yang sama kayak kemarin + antibiotik. Akhirnya diulang dan seminggu kemudian di cek lagi. Saat itu dah ok, gak sakit. Dibongkarlah tambalan sementara itu dan ditambal beneran deh. Kalau terjadi sesuatu dipersilahkan datang kembali, diresepin anti radang dan anti nyeri lagi.
Alhamdulillah sih sampai sekitar 6 bulan tu aman tambalannya. Pas bulan November sih kerasa ngilu banget dibagian tambalan itu kalo untuk kumur-kumur. Baliklah ke klinik nemuin dokter gigi senior tempo hari. Beliau masih inget aku, bahkan nanyain kondisi papa juga. Dicek lagi dan ditambal sementara lagi. Seminggu kemudian ditambal lagi. Dokter juga bilang, "kapan-kapan kamu harus ke dokter BM ya, kamu harus berani soalnya saya curiga nih gigi kamu miring bagian belakang". Waduh apa ya separah itu dua dokter dah suruh ke BM 😱ðŸ˜.
Udah lumayan baik nih gigi, tapi akhir Desember ngilu-ngilu lagi. Memberanikan diri ke klinik deh, akhirnya bu dokter senior tersebut nyemangatin aku. Kamu harus berani ya ke BM, saya bikinkan rujukan. Gak apa-apa, soalnya kecurigaan saya tentang gigimu yang miring itu yang bikin sakit, kalo itu gak diatasi nanti ya mau ditambal bolak balik lepas lagi. Begitu penjelasannya, dan aku akhirnya paham meski agak berat hati karena ngeri. Jakpot akhir tahunnya rujukan ke Rumah Sakit Poli Spesialis Gigi dan Bedah Mulut. Aku sih udah kesana tiap seminggu sekali hampir 6 bulan ini, tapi nemenin papa.
To be continue...
Jumat, 08 Maret 2019
Gigiku (Part 1): Sakit Gigi
Kali ini aku mau cerita tentang kisah gigiku. Yak, dulu...jaman dulu banget pas masih piyik ortuku rutin bawa ke dokter gigi. Saat itu aku sebagai anak kecil tergolong berani, kalau pun nangis bukan karena takut tapi karena modus mau minta sesuatu. Huahaha (*fyi, trik ini selalu berhasil). Sang dokter gigi pun sampai heran, sebab aku selalu nangis diawal setelah dijanjikan keinginanku akan dituruti ya dicabut kek diapain kek sama dokter kagak nangis malah berseri-seri dan biasa aja.
Pas aku gedean terus gigiku kan gingsul, sempat ditawari pasang behel. Jaman itu pasang behel belum tren kayak sekarang. Nah, itu lagi booming telenovela "Betty La Fea" yang pemeran utamanya culun & behelan (*Ngeriii bayanginnya, ogahlah begitu). Sejak dapat tawaran itu aku gak rajin lagi ke dokter gigi. Hehe
Gigi gingsulku
Setelah sekian lama terjadilah sakit gigi. Aku masih kuliah tuh kejadiannya, tapi sakitnya kadang timbul kadang hilang. Udah gitu si dinding dalam mulut (eh bener gak ya namanya?ya itulah pokoknya. Duh, gaje) suka nyangkut gitu di gigi bagian belakang. Rasanya tuh ngilu & nyeri, sampai kadang bikin nangis. Udah agak niat sih ke dokter gigi tapi kalo gak kerasa sakit ya niat itu terlupakan. Hehe *berkali-kali terjadi*
Jeng...jeng di bulan Mei tahun 2018 lalu, si gigi mulai sakit lagi. Terasa ngilu & nyeri, yah sudahlah ya daripada makin sakit kuputuskan ke dokter gigi. Orang bilang sih "daripada sakit gigi lebih baik sakit hati" (Duileh malah bersenandung lagu alm. Meggy Z). Bagiku ya sama aja sakit hati ataupun sakit gigi gak ada yang lebih mending sama-sama sakit & bikin nangis. Aku lalu berkunjung ke klinik dokter keluargaku (faskes 1).
To be continue...
Kamis, 24 Januari 2019
Buah Mentega, Apa sih itu?
Setelah blog ini tidur panjang...munculah niat untuk menulis lagi. Semoga bisa beneran produktif yak...gak cuma niat doang. Hehe (*Doain yak cuy)
Beberapa hari lalu dibawain buah mentega dari Kalimantan. Aku sih baru denger jadi penasaran banget. Apa sih buah mentega? Biasa juga dengernya Alpukat mentega.
Aku bukalah bungkusan yang isinya buah mentega itu, dan ternyata jeng...jeng isinya buah yang bentuknya mirip apel, tapi kulitnya berbulu halus seperti kain bludru dan aromanya khas.
Beberapa hari lalu dibawain buah mentega dari Kalimantan. Aku sih baru denger jadi penasaran banget. Apa sih buah mentega? Biasa juga dengernya Alpukat mentega.
Aku bukalah bungkusan yang isinya buah mentega itu, dan ternyata jeng...jeng isinya buah yang bentuknya mirip apel, tapi kulitnya berbulu halus seperti kain bludru dan aromanya khas.
![]() |
| penampakan buah mentega |
Buah ini memiliki nama latin Diospyros blancoi A. DC. Buah mentega disebut juga bisbul, sembolo (Jawa), dan velvet apel (Inggris). Buah ini berasal dari Filipina dikenal sebagai kamagong, tabang atau mabolo dalam bahasa Tagalog, merujuk pada kulit buah yang berbulu halus. Saat ini buah mentega telah menyebar ke berbagai negara tropis, termasuk Indonesia.
Buah mentega muda kulitnya berwarna cokelat kemerahan yang berubah menjadi terang, lalu menjadi agak kusam ketika matang.
Buah ini disebut buah mentega karena ketika dikupas atau dibelah, maka kita akan melihat warna dagingnya mirip mentega.
![]() |
| warna daging buah mentega |
Penasaran dong ya sama buah ini, teksturnya sih menurutku kayak timun suri. Setelah dicobain rasanya ternyata manis. Enyakkk sih, kalo aku cara makannya bisa dikupas atau dibelah terus disendokin.
Langganan:
Postingan (Atom)






